Seminar Motivasi “Speak with Power”: Membangun Generasi Darurrohmah yang Tangguh dalam Berkomunikasi

  • Jumat, 21 Agustus 2026
  • 4 views
Seminar Motivasi “Speak with Power”: Membangun Generasi Darurrohmah yang Tangguh dalam Berkomunikasi

Narasumber: Happy Chandrayana, M.I.Kom.

Speak with Power

“Be a Brilliant Public Speaker with Excellent Communication”
“Retorika Sang Santri yang Dirindukan”

Jika ingin menjadi seorang pemimpin, maka harus menjadi pembicara yang hebat. Sebab, sejatinya tidak ada orang yang dapat menjadi pemimpin yang baik hanya dengan mengatakan omong kosong.

Tema materi kali ini adalah “Speak with Power”, yaitu berbicara dengan kekuatan. Melalui kegiatan ini, diharapkan santri Darurrohmah mampu berbicara dengan:

قَوْلًا ثَقِيلًا
Qaulan Tsaqīlā — perkataan yang berbobot.

قَوْلًا كَرِيمًا
Qaulan Karīman — perkataan yang mulia.

قَوْلًا بَلِيغًا
Qaulan Balīghan — perkataan yang menyentuh dan membekas.

Apa pun profesi kita kelak, kita harus tetap menjadi seorang da’i yang mampu menyampaikan firman-firman Allah. Allah kaya dengan firman-Nya, Nabi Muhammad ﷺ kaya dengan sabda-sabdanya. Maka, Darurrohmah harus kaya dengan kata-katanya.

Santri Darurrohmah harus mampu berbicara secara kaffah (sepenuhnya), sehingga dapat melahirkan pembicara yang memiliki karakter sesuai dengan harapan dan menjadi kebanggaan umat.

Ada seorang santri yang mengatakan bahwa pembicara terhebat yang ia kenal bukanlah gurunya, melainkan ibunya. Ia merasa sangat tersentuh oleh perkataan ibunya. Meskipun hanya berbicara selama satu menit di gerbang, kata-kata sang ibu mampu langsung menyentuh hatinya. Padahal, ibunya tidak pernah mempelajari ilmu public speaking.

Di Darurrohmah, generasi yang ada di dalamnya harus bersahabat dengan atmosfer Darurrohmah. Pondok pesantren ini diciptakan dengan cinta, maka generasinya pun harus menjadi generasi yang penuh cinta.

“Nak, ini bukanlah panggungmu. Panggung ini hanyalah panggung yang terbuat dari bambu. Nanti kau akan tampil bukan hanya untuk seorang RT atau kepala desa, tetapi engkau akan tampil untuk orang-orang dari Sabang sampai Merauke. Jika kau ingin sukses, tidak bisa diam di rumah.”

Ustaz Warso adalah saksinya.

Pendidikan di pondok pesantren tidak bisa didapatkan hanya di rumah atau di madrasah yang ada di luar sana. Di pondok pesantren, kita tidak hanya mempelajari kurikulum, tetapi juga belajar tentang kepercayaan diri dan عِزَّةُ النَّفْسِ (‘izzatun nafs).

Jangan setengah-setengah dalam belajar di pondok pesantren, karena apa yang kita dapatkan nantinya juga akan setengah-setengah. Kelak, kita akan merindukan berada di lingkungan para habaib, merindukan lingkaran para masyaikh, dan merindukan sujud bersama dalam jamaah.

Berbicara dengan Karakter yang Kuat

Buanglah narasi yang tidak diperlukan dalam ranah MC. Kalimat “Hadirin diharap tenang” sebenarnya tidak salah, tetapi kurang tepat. Akan lebih baik jika menggunakan kalimat “Mohon perhatian.”

Voice over merupakan sarana untuk mempelajari vokal dan menjadi pengisi suara. Sementara itu, Speak with Power menggunakan karakter vokal, salah satunya deep voice.

Jenis karakter suara yang dapat digunakan antara lain:

  1. Low Voice
  2. Deep Voice
  3. Middle Voice, yaitu suara yang terasa dari dada dan dapat digunakan pada bagian akhir sebuah jingle.

“Kita adalah generasi Darurrohmah. Sebarkan kata-katamu dengan elegan.”

Dengan menghadirkan:

قَوْلًا كَرِيمًا — perkataan yang mulia.
قَوْلًا ثَقِيلًا — perkataan yang berbobot.
قَوْلًا بَلِيغًا — perkataan yang membekas dan efektif.

Setiap orang memiliki ketajaman pada bidangnya masing-masing sesuai dengan minat dan potensinya. Di sini, semuanya serba ada.

Kelebihan silet adalah tajam, tetapi tidak dapat digunakan untuk menebang pohon. Kelebihan kapak adalah mampu menebang pohon, tetapi tidak dapat digunakan untuk memotong rambut.

Allah menciptakan pendengaran dan penglihatan. Maka, jadilah pendengar sekaligus pembicara yang baik.

Rahasia Strategi Berbicara

1. Nice Opening

Khusnul Muqaddimah atau pembukaan yang baik. Pembukaan harus powerful, dengan smile face dan smile voice.

Salam harus disampaikan dengan antusias. Jangan menyampaikan salam dengan low voice. Orang yang gugup biasanya terlihat dari arah tatapannya yang ke atas dan ke bawah.

Saat mengucapkan salam, pada tiga detik pertama pandanglah ke arah kanan, kemudian ke tengah, dan perlahan-lahan ke arah kiri. Saat salam, iramanya juga harus diberi penekanan.

2. Introduction

Buatlah perkenalan diri menjadi berkesan.

3. Mainkan Emosi Audiens

Bangun suasana sesuai kebutuhan. Buat audiens merasakan suasana tegang, sedih, maupun tertawa.

4. Sampaikan Tujuan Anda

Pastikan audiens mengetahui tujuan dari pembicaraan yang disampaikan.

5. Smile Face dan Smile Voice

Tampilkan wajah yang bersahabat dan gunakan suara yang ramah serta menyenangkan.

6. Hindari Pembahasan Negatif di Awal

Awal pembicaraan harus memberikan energi yang positif kepada audiens.

7. Ice Breaking

Ice breaking berfungsi untuk mencairkan dan mencerahkan suasana.

Ketika tampil di depan, satu menit pertama adalah waktu ketika audiens menilai dan merasakan energi yang kita bawa.

Dalam mempersilakan seseorang, gunakan kalimat yang lebih baik seperti:

“Dengan segala hormat, kami persilakan.”

atau

“Kepada yang terhormat, kami persilakan.”

Sebanyak 60–80% kesan audiens terhadap pembicara terjadi dalam satu menit pertama saat berbicara.

Melihat itu penting, tetapi hanya sedikit yang benar-benar mendengar. Mendengar itu penting, tetapi hanya sedikit yang memperhatikan. Memperhatikan itu penting, tetapi hanya sedikit yang memahami.

Ketika kiai kita berbicara, maka lihatlah, dengarlah, dan perhatikanlah, agar kalian dapat memahami apa yang disampaikan.

Allah berfirman:

وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ

“Dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati.”

Kita dapat memengaruhi emosi dan perasaan pendengar jika kita berbicara dengan rasa.

Belajar itu penting, tetapi bukan yang penting belajar. Ngaji itu penting, tetapi bukan yang penting ngaji. Bicara itu penting, tetapi bukan yang penting bicara.

Jika sebuah kalimat selalu diawali dengan kata “yang penting”, maka hal tersebut justru dapat menjadi tidak penting.

Jika kita mampu mengomunikasikan sebuah ide dengan delapan kata, lantas buat apa kita mengomunikasikannya dengan dua puluh kata?

The Power of Body Language

Dalam berbicara, terdapat beberapa hal yang perlu dihindari, antara lain:

1. Menyimpan tangan di saku

Hal ini dapat menunjukkan kesan pembicara yang sombong atau angkuh.

2. Menyedekapkan tangan

Posisi tangan yang disedekapkan dapat memberikan kesan tertutup.

3. Menangkupkan tangan di belakang punggung

Gerakan ini perlu dihindari karena dapat mengurangi kesan natural saat berbicara.

4. Memainkan tangan secara tidak wajar

Gerakan tangan harus digunakan secara proporsional dan mendukung pesan yang disampaikan.

5. Hindari No Graffiti Now

Hindari penggunaan kata-kata pengisi yang berlebihan seperti “eeee…”, “eeee…”, “yaaaa…”, dan sejenisnya.

Teks MC juga sebaiknya menggunakan tanda slash (/) sebagai penanda jeda agar lebih nyaman dibaca dan lebih mudah disampaikan dengan intonasi yang tepat.

Pada akhirnya, pesan yang ingin disampaikan adalah:

“KITA SEBAGAI SANTRI HARUS BISA MENYALAKAN BANGSA DENGAN BICARA.”

Dengan Speak with Power, santri Darurrohmah diharapkan mampu menjadi generasi yang percaya diri, tangguh, berkarakter, dan mampu menyampaikan kebaikan melalui kata-kata yang mulia, berbobot, serta mampu menyentuh dan membekas di hati.

Dinia dan Adelina

Khodimul Dhuyuf

Hubungi Kami untuk respons lebih cepat jika Anda membutuhkan bantuan, atau informasi seputar Pondok Pesantren Darurrohmah.