PP-IKPM Darussalam Gontor Kunjungi Pondok Pesantren Darurrohmah, Sampaikan Pesan tentang Keikhlasan, Ketakwaan, dan Kebermanfaatan

  • Senin, 17 Agustus 2026
  • 4 views
PP-IKPM Darussalam Gontor Kunjungi Pondok Pesantren Darurrohmah, Sampaikan Pesan tentang Keikhlasan, Ketakwaan, dan Kebermanfaatan

Darurrohmah, 16 Agustus 2026 — Pondok Pesantren Darurrohmah menerima kunjungan Pengurus Pusat Ikatan Keluarga Pondok Modern (PP-IKPM) Darussalam Gontor pada Ahad, 16 Agustus 2026. Kunjungan tersebut menjadi momentum silaturahmi sekaligus kesempatan bagi para santri untuk mendapatkan nasihat, motivasi, dan penguatan nilai-nilai kepesantrenan.

Dalam kesempatan tersebut, Ustadz Syaiful Anwar menyampaikan tausiyah yang mengangkat sejumlah tema penting dalam kehidupan seorang santri, di antaranya rasa syukur, keikhlasan, ketakwaan, kekuatan doa, pentingnya adab, serta menjadi pribadi yang bermanfaat bagi sesama.

Mengawali penyampaiannya, Ustadz Syaiful mengingatkan para santri mengenai pentingnya bersyukur kepada Allah SWT. Beliau mengutip firman Allah SWT dalam QS. Ibrahim ayat 7:

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Artinya:
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”

“Karena Doa Santri Maqbul”

Dalam tausiyahnya, Ustadz Syaiful Anwar menceritakan sebuah kisah tentang Kyai Hasan Abdullah Sahal yang pernah ditanya mengenai alasan Gontor dapat berkembang dan maju hingga menjadi seperti sekarang.

Menurut beliau, Kyai Hasan Abdullah Sahal menjawab, “Karena doa santri maqbul.”

Jawaban tersebut, lanjut Ustadz Syaiful, bukanlah karena beliau seorang kyai, bukan pula semata-mata karena materi dan metodologi yang dimiliki. Namun, beliau menekankan bahwa salah satu kekuatan besar dalam perjalanan Gontor adalah doa para santri.

Ustadz Syaiful kemudian mengingatkan kembali sejarah perjuangan Trimurti, yaitu K.H. Ahmad Sahal, K.H. Zainuddin Fannanie, dan K.H. Imam Zarkasyi, dalam merintis pembangunan Gontor.

Pada awalnya, perjuangan tersebut dimulai dengan kondisi yang sangat sederhana. Dengan bermodalkan sebidang tanah peninggalan kedua orang tua serta bekal ilmu yang masih terbatas, Trimurti mulai membangun lembaga pendidikan di tengah situasi penjajahan yang membuat akses terhadap ilmu pengetahuan menjadi sangat sulit dan terbatas pada kalangan tertentu.

Namun, dari kondisi yang sederhana tersebut, Gontor mampu berkembang menjadi salah satu pondok pesantren besar seperti yang dikenal saat ini. Hal tersebut, menurut Ustadz Syaiful, tidak terlepas dari perjuangan, keikhlasan, serta doa para santri.

Santri sebagai Orang-Orang Terpilih

Dalam kesempatan tersebut, Ustadz Syaiful juga mengibaratkan kehidupan para santri dengan kisah Ashhabul Kahfi. Mereka merupakan sekelompok pemuda yang jumlahnya sedikit dibandingkan dengan masyarakat pada zamannya, tetapi menjadi orang-orang yang dipilih dan dimuliakan karena keimanan mereka.

Allah SWT berfirman:

إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى

Artinya:
“Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahkan petunjuk kepada mereka.”
(QS. Al-Kahfi: 13)

Menurut Ustadz Syaiful, para santri juga patut menyadari bahwa mereka adalah orang-orang yang beruntung dan terpilih. Dari sekian banyak anak seusia mereka di luar sana, hanya sebagian yang memilih untuk menuntut ilmu di pondok pesantren.

Kesempatan untuk menjadi santri merupakan nikmat yang besar. Karena itu, kehidupan di pesantren harus dijalani dengan rasa syukur, keikhlasan, dan kesungguhan.

Kekuatan Spiritual dan Keikhlasan

Lebih lanjut, Ustadz Syaiful menjelaskan bahwa keberhasilan seorang santri tidak hanya ditentukan oleh kemampuan akademis, tetapi juga oleh kekuatan spiritual yang dibangun oleh santri, guru, dan kyainya.

Dalam kehidupan sehari-hari, para santri hampir setiap hari melewati kediaman kyai ketika hendak menuju masjid. Terkadang mereka dipanggil oleh bagian keamanan atau memiliki berbagai keperluan lainnya. Menurut beliau, berbagai interaksi tersebut menjadi bagian dari pendidikan dan doa yang menyertai perjalanan seorang santri.

“Keikhlasan murid dalam belajar dan keikhlasan guru dalam mengajar adalah faktor terbesar yang menentukan kesuksesan,” tutur beliau.

Keikhlasan tersebut, lanjutnya, merupakan bagian dari akumulasi ketakwaan. Kehidupan santri yang dimulai sejak bangun sekitar pukul 04.00 hingga kembali tidur merupakan rangkaian aktivitas yang tidak hanya membentuk kemampuan akademis, tetapi juga mendidik santri secara nonakademis melalui berbagai kegiatan.

Ketakwaan, Tawakal, dan Rezeki

Dalam tausiyahnya, Ustadz Syaiful juga mengingatkan para santri tentang pentingnya ketakwaan dan tawakal kepada Allah SWT dengan mengutip QS. At-Thalaq ayat 2–3:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا

Artinya:
“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya.”

Allah SWT juga berfirman:

وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ ۚ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

Artinya:
“Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu.”

Ustadz Syaiful kemudian menggambarkan kehidupan santri yang penuh dengan kesederhanaan, termasuk dalam hal makanan dan waktu istirahat.

Dengan gaya penyampaian yang ringan, beliau menggambarkan pola makan santri sebagai “4 sehat 5 kenyang”, bukan “4 sehat 5 sempurna”. Para santri telah terbiasa dengan makanan sederhana seperti sayur dan tempe.

Menurut beliau, kesehatan santri tidak hanya berkaitan dengan makanan, tetapi juga dengan motivasi dan semangat hidup. Semangat tersebut bahkan dapat terlihat dalam keseharian para santri ketika berebut makanan.

Begitu pula dengan waktu tidur. Para santri umumnya tidur sekitar pukul 22.00 dan kembali bangun pada pukul 04.00. Bahkan, terkadang terdapat santri yang memilih untuk begadang hingga malam demi belajar dan menyelesaikan berbagai aktivitas.

Teman yang Baik dan Kehidupan yang Tertata

Memiliki teman yang baik dan menjalani kehidupan yang tertata seperti di pesantren merupakan nikmat yang sangat besar. Di luar pesantren, belum tentu seseorang memiliki orang-orang yang senantiasa mengingatkan ketika melakukan kesalahan.

Kehidupan pesantren memberikan lingkungan yang membantu santri untuk terus memperbaiki diri. Guru, kyai, teman, serta seluruh lingkungan pesantren menjadi bagian dari proses pendidikan.

Barokah setelah memasuki pesantren, menurut Ustadz Syaiful, dapat dirasakan dalam berbagai bentuk, termasuk kemudahan dalam memperoleh rezeki dan mendapatkan jalan keluar dari berbagai persoalan kehidupan.

Beliau juga menegaskan bahwa santri di pondok bukanlah beban bagi kyai, melainkan menjadi bagian dari perjuangan dan pasukannya.

Kehidupan di pesantren merupakan kehidupan yang tertata. Melalui kedisiplinan, tanggung jawab, dan berbagai aktivitas, santri dibentuk agar memiliki pola hidup yang baik dan mampu menjadi pribadi yang baik pula.

Menjadi Pribadi yang Sibuk dan Bermanfaat

Ustadz Syaiful juga menyampaikan bahwa orang-orang yang tergabung dalam IKPM merupakan pribadi-pribadi yang memiliki kesibukan dan peran masing-masing. Ada yang menjadi pengusaha, kyai, dan berbagai profesi lainnya.

Menurut beliau, kesibukan yang disertai kebermanfaatan merupakan salah satu tanda bahwa seseorang memiliki nilai. Sebab, harga seseorang ditentukan oleh kebermanfaatannya bagi orang lain.

Beliau menyampaikan sebuah ungkapan:

وَالنَّاسُ أَلْفٌ مِنْهُمْ كَوَاحِدٌ
وَوَاحِدٌ كَالْأَلْفِ إِنْ أَمْرٌ عَنَى

Artinya:
“Manusia itu ada seribu, tetapi di antara mereka ada yang seperti satu orang. Dan ada satu orang yang seperti seribu orang, apabila ia memiliki perhatian terhadap suatu urusan.”

Selain itu, beliau juga mengutip sebuah ungkapan yang masyhur:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

Artinya:
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”

Menjadi Guru sebagai Karakter

Salah satu bentuk kebermanfaatan yang ditekankan dalam tausiyah tersebut adalah menjadi seorang guru.

Ustadz Syaiful berpesan bahwa para santri boleh menjadi apa pun di masa depan, tetapi semangat untuk mengajar hendaknya tetap ada dalam diri. Mengajar bukan hanya sekadar berdiri di depan kelas dan menyampaikan materi, tetapi juga memiliki karakter seorang guru atau ustadziyah.

Seorang guru harus memiliki rasa malu ketika melakukan kesalahan dan senantiasa berusaha memberikan keteladanan. Guru bukan sekadar profesi, melainkan sebuah karakter yang melekat dalam kehidupan.

Beliau memberikan contoh sederhana ketika seorang guru menulis kata قَلَمٌ, tetapi lupa menuliskan dua titik pada huruf tertentu. Seorang guru dituntut untuk berani mengakui kesalahan dan tidak mencari alasan untuk mengelak.

Dari hal-hal sederhana tersebut, seorang guru mengajarkan keteladanan kepada muridnya.

Adab sebagai Dasar Ilmu

Salah satu prinsip pendidikan yang juga disampaikan adalah:

“Manusia berbudi tinggi, berbadan sehat, berpengetahuan luas, berpikiran bebas, berjiwa besar.”

Dalam menjelaskan pentingnya berbudi tinggi, Ustadz Syaiful memberikan perumpamaan angka 1000. Angka 1 diibaratkan sebagai adab dan akhlak, sedangkan 000 diibaratkan sebagai ilmu.

Apabila angka 1 tersebut dihilangkan, sebanyak apa pun angka 0 yang ditambahkan, hasilnya tetap 0. Sebaliknya, meskipun tidak memiliki angka 0, angka 1 tetap memiliki nilai.

Perumpamaan tersebut menggambarkan bahwa ilmu harus dibangun di atas dasar adab dan akhlak. Semakin banyak ilmu yang dimiliki seseorang, semakin penting pula baginya untuk menjaga adab dan akhlak.

Santri adalah Orang yang Beruntung

Para santri juga diingatkan bahwa menjadi santri merupakan sebuah keberuntungan.

أَنْتُمْ مَحْظُوظُونَ

Artinya:
“Kalian adalah orang-orang yang beruntung.”

أَنْتُنَّ مَحْظُوظَاتٌ

Artinya:
“Kalian (perempuan) adalah orang-orang yang beruntung.”

Ustadz Syaiful juga menyampaikan istilah مَحَلُّ التَّقْوِيمِ yang berarti tempat penilaian atau evaluasi.

Santri, menurut beliau, merupakan pribadi yang sedang ditempa. Beliau mengibaratkan santri seperti besi yang sedang panas dan siap dibentuk. Besi yang telah dibentuk tentu memiliki nilai lebih tinggi dibandingkan besi yang hanya dibiarkan begitu saja. Demikian pula dengan kayu dan berbagai bahan lainnya.

Pesantren menjadi tempat untuk membentuk dan menempa santri agar memiliki ilmu, karakter, adab, serta kemampuan untuk memberikan manfaat di tengah masyarakat.

Jangan Pernah Menyesal Menjadi Santri

Menutup penyampaiannya, Ustadz Syaiful berpesan agar para santri tidak pernah menyesal menjadi santri. Pondok pesantren dapat mengantarkan seseorang untuk menjadi apa saja, selama nilai-nilai yang diperoleh selama di pesantren terus dijaga dan dikembangkan.

Beliau memberikan contoh Dr. H. M. Hidayat Nur Wahid, M.A., yang merupakan alumni Pondok Modern Darussalam Gontor dan pernah menjabat sebagai Wakil Ketua MPR RI. Beliau lulus dari Gontor pada tahun 1978 dan menyampaikan bahwa terdapat empat hal yang membantunya menuju kesuksesan, yang keempatnya diperoleh di pondok pesantren.

Selain itu, Prof. Dr. Nurcholish Madjid merupakan salah satu tokoh besar yang telah melanglang buana dalam dunia pemikiran dan pendidikan. Beliau juga dikenal sebagai sosok yang senantiasa menyebut dirinya sebagai seorang santri Pondok Pesantren Gontor.

Hal tersebut menunjukkan bahwa pendidikan pesantren dapat menjadi bekal bagi seseorang untuk berkiprah dalam berbagai bidang kehidupan.

Terus Belajar dan Jangan Takut Belum Memahami

Di akhir tausiyah, Ustadz Syaiful menyampaikan bahwa mungkin terdapat sebagian santri yang merasa kesulitan memahami materi karena tingkat pembahasannya cukup tinggi. Namun, hal tersebut tidak perlu menjadi kekhawatiran.

Tidak semua ilmu harus dipahami dalam satu waktu. Bisa jadi sesuatu yang hari ini terasa sulit akan dipahami setelah santri mendapatkan pengalaman dan pengetahuan yang lebih luas di masa mendatang.

Karena itu, tidak perlu menurunkan tingkat materi hanya karena belum semua santri dapat langsung memahaminya. Teruslah belajar, membaca, bertanya, dan mengikuti proses pendidikan dengan penuh kesungguhan.

Kunjungan PP-IKPM Darussalam Gontor ke Pondok Pesantren Darurrohmah menjadi momentum penting untuk kembali mengingatkan para santri tentang besarnya nikmat menjadi seorang santri. Kehidupan pesantren bukan sekadar rutinitas, melainkan proses panjang untuk membentuk pribadi yang berbudi tinggi, berbadan sehat, berpengetahuan luas, berpikiran bebas, dan berjiwa besar.

Dengan bekal keikhlasan, ketakwaan, ilmu, adab, dan semangat untuk bermanfaat, para santri diharapkan mampu melanjutkan perjuangan di tengah masyarakat dan menjadi bagian dari umat yang senantiasa memberikan manfaat.

Dinia dan Zhafira

Khodimul Dhuyuf

Hubungi Kami untuk respons lebih cepat jika Anda membutuhkan bantuan, atau informasi seputar Pondok Pesantren Darurrohmah.