
Narasumber: KH. Warso Winata, Lc., M.A.
Wara‘ merupakan sikap berhati-hati dalam menjaga diri, baik dalam perkataan, perbuatan, maupun makanan yang dikonsumsi. Sikap ini menjadi salah satu bagian penting yang harus dimiliki oleh seorang penuntut ilmu agar ilmu yang diperoleh dapat memberikan manfaat dan keberkahan.
Dalam kajian tersebut disampaikan bahwa orang yang tidak menerapkan sikap wara‘ selama masa belajar akan menghadapi berbagai kesulitan. Di antaranya adalah diwafatkan dalam usia muda, ditempatkan atau terdampar bersama orang-orang yang bodoh, serta menjadi pelayan atau suruhan pemerintah.
Keterangan tersebut menjadi pengingat bahwa masa belajar memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan seseorang di masa depan. Kesuksesan seseorang tidak hanya ditentukan oleh seberapa rajin ia belajar. Kesungguhan dalam belajar memang merupakan hal yang sangat penting, tetapi terdapat faktor lain yang tidak kalah penting, yaitu menjaga adab, perilaku, dan sikap wara‘.
Ada seseorang yang telah bersungguh-sungguh dalam belajar, tetapi tetap mengalami kegagalan. Salah satu kemungkinan penyebabnya adalah ia tidak menjaga sikap wara‘. Seorang penuntut ilmu harus berhati-hati dalam tingkah laku, perkataan, makanan, dan segala sesuatu yang dilakukannya. Sebab, ketika menuntut ilmu, seseorang sedang mempelajari ilmu Allah yang tidak diberikan kepada semua manusia.
Kemuliaan Manusia dan Derajat Penuntut Ilmu
Kesempatan untuk menuntut ilmu merupakan nikmat yang sangat besar. Manusia sendiri telah diberikan kedudukan yang mulia oleh Allah Swt. Dalam Al-Qur’an disebutkan:
لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ
“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”
(QS. At-Tin: 4)
Manusia telah diberikan derajat yang tinggi. Di antara manusia terdapat umat yang memiliki keutamaan, yaitu khairu ummah, umat terbaik yang membawa misi amar makruf nahi mungkar. Kemudian, derajat tersebut dapat kembali meningkat ketika seseorang menjadi ṭālibul ‘ilmi, yaitu orang yang bersungguh-sungguh menuntut ilmu.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ خَرَجَ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ حَتَّى يَرْجِعَ
“Barang siapa keluar untuk mencari ilmu, maka ia berada di jalan Allah sampai ia kembali.”
(HR. At-Tirmidzi)
Hadis tersebut menunjukkan betapa mulianya kedudukan orang yang menuntut ilmu. Namun, kemuliaan tersebut harus diiringi dengan sikap hati-hati dalam menjalani kehidupan. Jangan sampai seseorang memiliki ilmu yang tinggi, tetapi perilakunya justru jauh dari nilai-nilai yang diajarkan oleh ilmu tersebut.
Ilmu Harus Disertai Wara‘
Menjadi seorang penuntut ilmu, terlebih sebagai santri yang berada dalam lingkungan pendidikan dan pesantren, merupakan sebuah amanah. Oleh karena itu, ilmu yang dipelajari harus tercermin dalam akhlak dan perilaku sehari-hari.
Apabila seseorang menuntut ilmu tetapi tidak berhati-hati dan masih banyak melakukan maksiat, ilmu yang dimilikinya dikhawatirkan tidak memberikan manfaat. Dalam kajian tersebut disampaikan bahwa apabila seseorang tidak mati secara lahiriah, bisa jadi ia mengalami “kematian hati”, yaitu kondisi ketika hati tidak lagi dapat menerima nasihat dan kebenaran.
Orang bodoh mungkin melakukan kesalahan sederhana, tetapi orang yang memiliki ilmu dapat melakukan kesalahan dengan dampak yang jauh lebih besar apabila ilmunya tidak disertai ketakwaan. Misalnya, orang yang tidak berilmu mungkin mencuri seekor ayam, sedangkan orang yang berilmu tetapi tidak memiliki integritas dapat melakukan korupsi atau menyalahgunakan proyek dan amanah.
Hal tersebut menjadi gambaran bahwa kebodohan yang sebenarnya bukan sekadar ketidaktahuan secara akademik, melainkan mengetahui kebenaran tetapi tetap memilih untuk melakukan kesalahan.
Allah Swt. berfirman:
إِنَّ الْإِنسَانَ لِرَبِّهِ لَكَنُودٌ
“Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar kepada Tuhannya.”
(QS. Al-‘Adiyat: 6)
Kemudian Allah Swt. berfirman:
وَإِنَّهُ عَلَىٰ ذَٰلِكَ لَشَهِيدٌ
“Dan sesungguhnya dia menyaksikan (mengakui) keingkarannya.”
(QS. Al-‘Adiyat: 7)
Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa terkadang seseorang sebenarnya mengetahui bahwa perbuatannya salah, bahkan menyadarinya, tetapi tetap melakukannya. Inilah bentuk kebodohan yang bukan hanya berkaitan dengan kemampuan akademik, melainkan juga kebodohan dalam mengendalikan diri dan hati.
Jangan Hanya Berpikir tentang Apa yang Didapatkan
Dalam kajian juga disampaikan pesan penting mengenai sikap memberi. Allah Swt. berfirman dalam QS. Al-Lail ayat 5–7:
فَأَمَّا مَنْ أَعْطَىٰ وَاتَّقَىٰ وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَىٰ فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَىٰ
“Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, serta membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami akan memudahkannya untuk memperoleh jalan kemudahan.”
Kata أَعْطَىٰ (a‘ṭā) berarti memberi dan termasuk fi‘il muta‘addi, yaitu kata kerja yang membutuhkan objek (maf‘ūl bih). Menariknya, dalam ayat tersebut objek dari kata أَعْطَىٰ tidak disebutkan secara spesifik.
Hal tersebut dapat menjadi renungan agar seseorang tidak hanya memiliki pola pikir bahwa memberi itu harus berupa uang karena sejatinya memberi itu dapat berupa banyak hal termasuk memberi fikiran berupa masukan dan memberi tenaga
“Jangan hanya berpikir apa yang kamu dapatkan dari bangsa ini, tetapi berpikirlah apa yang bisa kamu berikan untuk bangsa ini.”
Begitu pula sebagai santri. Jangan hanya berpikir tentang apa yang telah diberikan pondok kepada kita, tetapi pikirkan pula apa yang dapat kita berikan untuk pondok.
Memberi tidak selalu berupa materi atau uang. Memberikan manfaat dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti menghidupkan masjid, mengikuti kegiatan dengan baik, menjaga nama baik pondok, serta menggunakan ilmu yang telah diperoleh untuk memberikan manfaat kepada masyarakat.
Pentingnya Menjaga Lingkungan
Lingkungan juga memiliki pengaruh besar terhadap perilaku seseorang. Banyak orang yang awalnya memiliki akhlak baik, tetapi kemudian mengalami perubahan karena berada dalam lingkungan yang buruk.
Sebaliknya, lingkungan yang baik dapat membantu seseorang mempertahankan dan meningkatkan kebaikannya. Karena itu, seorang penuntut ilmu perlu memilih lingkungan pergaulan yang dapat mendukung proses belajar dan menjaga akhlaknya.
Ketika seseorang menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh, menjaga wara‘, dan berada dalam lingkungan yang baik, insyaallah ilmunya akan lebih bermanfaat, proses belajarnya akan dimudahkan, serta keberadaannya dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.
Bentuk Sikap Wara‘ dalam Kehidupan Sehari-hari
Wara‘ dapat diwujudkan melalui berbagai sikap sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Seorang penuntut ilmu hendaknya menjaga pola makan, tidak berlebihan dalam tidur, menghindari terlalu banyak berbicara tentang hal-hal yang tidak bermanfaat, serta berhati-hati dalam memilih makanan dan segala sesuatu yang dikonsumsi.
Dalam tradisi para ulama terdahulu, kehati-hatian terhadap makanan pasar menjadi salah satu bentuk perhatian besar terhadap keberkahan ilmu. Mereka sangat memperhatikan dari mana makanan diperoleh, bagaimana prosesnya, serta siapa yang menyediakannya, bahkan banyak para ulama di zaman dahulu yang tidak mau memakan makanan pasar karena makanan pasar itu lebih dekat kepada Najis.
Dinia, Zhafira dan Shofie







