
Narasumber: KH. Warso Winata, Lc., M.A.
Tanggal: 28 Juli 2026
Dalam kajian Kitab Ta’lim al-Muta’allim, KH. Warso Winata, Lc., M.A. menyampaikan bahwa seorang muta’allim (penuntut ilmu) harus terlebih dahulu menjadi pribadi yang baik sebelum menjadi pelajar yang baik. Untuk menggapai cita-cita sebagai santri yang saleh dan berilmu, seseorang harus membangun akhlak serta memperbaiki kualitas dirinya.
Menuntut ilmu merupakan kewajiban yang bernilai ibadah dan berpahala. Oleh karena itu, niat dalam mencari ilmu harus semata-mata karena Allah Swt. (lillāhi ta‘ālā), bukan semata-mata untuk mengejar kenikmatan dunia, kedudukan, ataupun harta. Apabila tujuan utama menuntut ilmu hanyalah kepentingan duniawi, maka hal tersebut merupakan tujuan yang rendah bagi seorang penuntut ilmu.
Beliau juga mengingatkan bahwa seluruh perjalanan hidup manusia berada dalam ketetapan Allah Swt. Meskipun seseorang telah berusaha dengan sungguh-sungguh, hasil akhirnya tetap berada dalam kehendak-Nya. Prinsip man jadda wajada (barang siapa bersungguh-sungguh, maka ia akan berhasil) harus tetap diiringi dengan sikap tawakal dan penyerahan diri kepada Allah. Tidak semua rencana manusia akan berjalan sesuai harapan, karena Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya.
Ilmu merupakan sesuatu yang suci. Oleh sebab itu, ilmu harus dicari dengan niat yang benar. Dalam proses menuntut ilmu, prioritas utama seorang santri adalah ilmu agama. Beliau mencontohkan bahwa apabila seseorang dihadapkan pada pilihan menjadi guru Pendidikan Agama Islam atau mendalami ilmu tafsir hingga menjadi ahli tafsir, maka hendaknya ia memilih jalan yang lebih mendekatkannya kepada pemahaman agama secara mendalam, sehingga orientasi belajarnya benar-benar karena Allah, bukan sekadar mengejar profesi.
Namun demikian, pilihan jalan hidup tetap kembali kepada masing-masing individu. Pondok pesantren menjadi tempat untuk memperbaiki kebiasaan buruk, membentuk karakter, dan memperkuat keimanan. Oleh karena itu, ketika memilih lembaga pendidikan, seseorang tidak seharusnya hanya mempertimbangkan fasilitas yang tersedia, tetapi juga memperhatikan kualitas pengasuh, keilmuan, sanad, serta latar belakang pendidikan para guru dan pemimpinnya.
Beliau juga mengingatkan agar berhati-hati dalam memilih lingkungan pendidikan. Fasilitas yang baik bukanlah satu-satunya ukuran kualitas sebuah lembaga. Yang lebih penting adalah nilai, akidah, serta lingkungan yang mampu menjaga dan mengembangkan keilmuan seorang muslim.
Menghormati Ilmu sebagai Jalan Meraih Keberkahan
Salah satu pesan penting dalam kajian ini adalah pentingnya menghormati ilmu, kitab, dan para guru. Menurut beliau, keberkahan ilmu hanya akan diperoleh oleh orang yang memuliakan sumber ilmu dan orang yang mengajarkannya.
Beliau memberikan contoh sederhana mengenai keberkahan. Seseorang yang menjaga sebuah pulpen hingga dapat digunakan dalam waktu yang lama berbeda dengan orang yang sering kehilangan pulpen meskipun baru beberapa hari digunakan. Nilai benda tersebut mungkin sama, tetapi keberkahannya berbeda. Keberkahan tampak pada kemampuan seseorang menjaga nikmat yang telah Allah berikan.
Demikian pula dengan barang-barang yang dimiliki seorang santri. Barang yang dianggap berharga akan dijaga dengan baik, sedangkan barang yang kurang dihargai cenderung mudah rusak atau hilang. Sikap menjaga amanah terhadap barang-barang yang dimiliki merupakan salah satu bentuk rasa syukur kepada Allah Swt.
Beliau menjelaskan bahwa kamar santri di Darurrohmah tidak menggunakan tempat tidur permanen agar ruangan tersebut dapat dimanfaatkan secara lebih fleksibel untuk berbagai aktivitas, seperti belajar, beribadah, bermusyawarah, maupun beristirahat. Lingkungan yang sederhana diharapkan dapat melatih santri untuk hidup disiplin, bersyukur, dan memanfaatkan fasilitas yang ada dengan sebaik-baiknya.
Selain itu, beliau juga mengingatkan pentingnya menghidupkan sunnah dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya adalah memasuki rumah dengan mendahulukan kaki kanan. Mengamalkan sunnah-sunnah kecil seperti ini merupakan bagian dari ikhtiar menghadirkan keberkahan dalam kehidupan.
Apabila ingin memperoleh keberkahan ilmu, maka seorang santri harus menghormati ahli ilmu, kitab-kitab yang dipelajari, serta para guru yang membimbingnya.
Beliau juga menyoroti kebiasaan sebagian santri yang sering kehilangan buku atau alat tulis karena kurang menghargai ilmu. Meletakkan kitab, buku, maupun pulpen secara sembarangan merupakan kebiasaan yang perlu dihindari. Bisa jadi hilangnya barang-barang tersebut merupakan pengingat agar seseorang lebih bersyukur dan lebih menjaga nikmat yang telah Allah berikan.
Rasa syukur tidak hanya diwujudkan dengan mengucapkan Alhamdulillah, tetapi juga dengan menjaga dan memanfaatkan nikmat Allah secara baik. Segala sesuatu yang dimiliki hendaknya dirawat sebagai bentuk syukur kepada-Nya.
Enam Syarat Meraih Ilmu
Dalam kesempatan tersebut, KH. Warso mengutip syair yang sangat masyhur yang dinisbatkan kepada Imam Syafi’i:
أَلَا لَا تَنَالُ الْعِلْمَ إِلَّا بِسِتَّةٍ
سَأُنْبِيكَ عَنْ تَفْصِيلِهَا بِبَيَانِ
ذَكَاءٍ وَحِرْصٍ وَاجْتِهَادٍ وَبُلْغَةٍ
وَصُحْبَةِ أُسْتَاذٍ وَطُولِ زَمَانِ
Artinya:
“Ketahuilah, ilmu tidak akan dapat diraih kecuali dengan enam perkara. Akan aku jelaskan satu per satu, yaitu kecerdasan, semangat yang tinggi, kesungguhan, bekal yang mencukupi, bimbingan seorang guru, dan waktu yang panjang.”
Syair tersebut mengajarkan bahwa keberhasilan dalam menuntut ilmu tidak hanya bergantung pada kecerdasan, tetapi juga memerlukan kesungguhan, kesabaran, kecukupan sarana, bimbingan guru, serta proses belajar yang panjang.
Keberkahan Guru dan Sikap Tawakal
Beliau menegaskan bahwa ilmu yang berkah adalah ilmu yang dapat diamalkan dan disampaikan kepada orang lain. Oleh karena itu, seorang penuntut ilmu harus menjaga adab kepada guru dan tidak meremehkan orang yang mengajarkannya. Fenomena sebagian pelajar yang tidak menghormati guru menjadi salah satu penyebab hilangnya keberkahan ilmu.
Menurut beliau, nilai akademik yang tinggi belum tentu menjadi ukuran kemuliaan di sisi Allah Swt. Yang lebih utama adalah ilmu yang membawa seseorang semakin dekat kepada Allah serta melahirkan akhlak yang baik.
Beliau juga menyampaikan bahwa banyak ulama besar lahir dari pribadi-pribadi yang memiliki bakti dan penghormatan luar biasa kepada guru-gurunya. Karena itu, seluruh guru di pesantren harus dihormati tanpa membeda-bedakan siapa pun yang mengajar.
Di akhir kajian, beliau menekankan pentingnya tawakal sebagai salah satu bekal utama seorang santri. Tawakal merupakan sikap menyerahkan hasil sepenuhnya kepada Allah setelah melakukan ikhtiar secara maksimal. Masa depan setiap orang berada dalam ketetapan Allah. Apa yang direncanakan manusia belum tentu menjadi kenyataan, karena Allah dapat memberikan sesuatu yang lebih baik ataupun berbeda dari yang diharapkan.
Oleh sebab itu, seorang santri hendaknya tidak terlalu sibuk memikirkan kelak akan menjadi apa. Yang terpenting adalah bersungguh-sungguh dalam beribadah, menjaga adab, menghormati guru, dan belajar dengan penuh keikhlasan. Dengan demikian, ilmu yang diperoleh akan menjadi ilmu yang bermanfaat dan penuh keberkahan.
Dinia, Zhafira, dan Shofie







