Ketika Seni, Budaya, Dakwah Bersatu di Panggung Darurrohmah Art Show 2026

  • Kamis, 15 Oktober 2026
  • 7 views
Ketika Seni, Budaya, Dakwah Bersatu di Panggung Darurrohmah Art Show 2026

Dari tarian Nusantara, musikalisasi puisi, hingga drama perjuangan dan kritik sosial, Darurrohmah Art Show 2026 menghadirkan beragam ekspresi seni sebagai ruang kreativitas, pendidikan karakter, dan dakwah santri.

CIREBON — Panggung seni dapat menjadi ruang pertemuan berbagai cerita: tentang keberagaman budaya, perjuangan bangsa, kehidupan santri, hingga persoalan sosial yang dihadapi masyarakat. Perpaduan itulah yang mewarnai Darurrohmah Art Show 2026 di Pondok Pesantren Darurrohmah, Sabtu (26/9/2026), mulai pukul 19.30 WIB. Mengusung tema “Perjuangan Menghadapi Tantangan Zaman”, acara yang diselenggarakan oleh santri kelas akhir 6, 9, dan 12 ini menghadirkan 17 ragam penampilan yang memadukan seni, budaya, kreativitas, dan pesan-pesan pendidikan.

Sebanyak 250 santri terlibat dalam kegiatan ini. Beragam penampilan yang disiapkan memberikan ruang bagi santri untuk mengekspresikan kemampuan mereka melalui musik, tari, puisi, pidato, drama, dan pertunjukan budaya. Tidak sekadar menjadi ajang unjuk bakat, kegiatan ini dirancang untuk menumbuhkan kepercayaan diri, mempererat ukhuwah Islamiyah, menanamkan nilai-nilai Islami melalui seni, serta memberikan pengalaman berorganisasi dan bekerja sama.

Di balik pertunjukan yang tersaji, terdapat proses persiapan selama kurang lebih empat bulan. Pembentukan kegiatan dan penyusunan proposal dimulai pada Juni, dilanjutkan dengan pengajuan proposal pada Juli. Memasuki Agustus hingga September, persiapan mencakup penggalangan dana, latihan, dekorasi, seleksi penampilan, dan gladi bersih sebelum acara dilaksanakan.

Membuka Panggung dengan Harmoni dan Gerak

Rangkaian penampilan menghadirkan beragam cara santri mengekspresikan diri. Penampilan Fullday Padus dengan lagu “Satu Mimpi” menjadi salah satu bentuk ekspresi melalui paduan suara. Melalui nyanyian bersama, penampilan ini menghadirkan tema tentang mimpi dan harapan yang dapat dimaknai sebagai semangat untuk terus bertumbuh dan meraih cita-cita.

Suasana keberagaman kemudian hadir melalui Fullday Tari Saman. Tari yang dikenal dengan kekompakan gerak dan ritme tersebut memperlihatkan bagaimana keselarasan menjadi unsur penting dalam sebuah pertunjukan. Setiap gerakan membutuhkan koordinasi, ketepatan irama, dan kesatuan antarpemain.

Nuansa budaya Indonesia berlanjut melalui Fullday Tari Manuk Dadali. Mengangkat identitas budaya Sunda melalui tarian yang terinspirasi dari lagu daerah “Manuk Dadali”, penampilan ini menjadi bagian dari pengenalan kekayaan budaya kepada generasi muda. Kehadiran tarian daerah di panggung pesantren menunjukkan bahwa seni tradisional dapat menjadi salah satu media untuk merawat kecintaan terhadap budaya Indonesia.

Ketiga penampilan tersebut menghadirkan bentuk ekspresi yang berbeda, tetapi memiliki benang merah yang sama: kerja bersama, penghayatan, dan keberanian untuk tampil di hadapan penonton.

Tiga Belas Tarian, Satu Panggung Keberagaman

Salah satu penampilan yang mengusung kekayaan budaya Indonesia adalah Tari Nusantara, yang melibatkan 25 peserta. Pertunjukan ini memadukan 13 tarian dari berbagai daerah, mulai dari Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua.

Rangkaian tarian yang dibawakan meliputi Tari Sigeh Pengunten dari Lampung, Tari Zapin Melayu, Tari Sinanggar Tulo dari Sumatra Utara, Tari Bagurau dari Sumatra Barat, Tari Kicir-Kicir dari Jakarta, Tari Sajojo dari Papua, Tari Pabatpibuy dari Kalimantan, Tari Gending Sriwijaya dari Palembang, Tari Cublak-Cublak Suweng dari Jawa Tengah, Tari Kancet dari Kalimantan Timur, Tari Sipatokaan dari Sulawesi Utara, Tari Rasa Sayange dari Maluku, serta Tari Anging Mammiri dari Makassar.

Perpaduan tersebut membawa beragam warna budaya ke dalam satu pertunjukan. Setiap tarian memiliki karakter gerak, irama, dan latar budaya yang berbeda. Ketika dirangkai dalam satu penampilan, keberagaman itu menjadi gambaran bahwa identitas Indonesia tumbuh dari kekayaan tradisi yang saling melengkapi.

Bagi santri, pengenalan terhadap tarian dari berbagai daerah dapat menjadi kesempatan untuk mengenal budaya di luar lingkungan mereka sendiri. Seni dalam konteks ini bukan hanya gerakan yang dipelajari untuk dipentaskan, melainkan juga sarana mengenali keberagaman dan menumbuhkan penghargaan terhadap warisan budaya bangsa.

Menjelajahi Budaya Dunia melalui Tari India dan Modern Dance

Selain budaya Nusantara, Darurrohmah Art Show 2026 juga menghadirkan ekspresi seni yang terinspirasi dari budaya populer internasional.

Melalui Tari India Akhwat, para santri memadukan tiga lagu Bollywood, yaitu “Nagada Sang Dhol”, “Silsila Ye Chaahat Ka”, dan “Dola Re Dola”. Ketiganya dikenal melalui film-film India yang menghadirkan kekuatan musik, ritme, dan koreografi khas Bollywood.

Perpaduan lagu tersebut membuka ruang bagi santri untuk mengeksplorasi ragam gerak dan ekspresi dalam seni tari. Persiapan penampilan seperti ini juga menjadi bagian dari proses mempelajari koreografi, menyelaraskan gerakan, dan mengembangkan keberanian untuk menampilkan hasil latihan di hadapan penonton.

Eksplorasi seni modern kemudian hadir melalui Modern Dance, yang menggabungkan “We Will Rock You” dari Queen dengan “B-DAY” dari iKON. Dua lagu dengan karakter musik berbeda tersebut menghadirkan perpaduan nuansa rock dan hip-hop yang energik.

Perbedaan gaya musik memberikan tantangan tersendiri dalam penyusunan koreografi. Perubahan irama dan karakter lagu menjadi bagian penting yang perlu diperhatikan agar gerakan dapat menyatu dengan musik.

Sementara itu, Tari India Ikhwan turut memperkaya variasi pertunjukan dengan lagu “Dhoom Again” dan “Jai Ho”. Kedua lagu tersebut dikenal melalui film India dan memiliki karakter musik yang kuat untuk pertunjukan tari.

Kehadiran penampilan-penampilan ini menunjukkan luasnya sumber inspirasi seni yang dapat dipelajari santri. Budaya populer dari berbagai negara dapat menjadi bahan eksplorasi kreatif, sementara nilai pendidikan tetap diarahkan pada pengembangan bakat, kedisiplinan, dan tanggung jawab.

Ketika Puisi Menjadi Suara Kegelisahan

Di antara ekspresi melalui musik dan gerak, Musikalisasi Puisi menghadirkan bentuk pertunjukan yang mengandalkan kekuatan kata, penghayatan, dan suasana.

Sembilan orang santri membawakan puisi “Kau Ini Bagaimana atau Aku Harus Bagaimana” karya KH. Mustofa Bisri atau Gus Mus. Puisi tersebut disampaikan secara bergantian dan bersahut-sahutan tanpa menggunakan teks, dengan iringan musik bernuansa sedih.

Pilihan penyampaian tanpa teks menempatkan penguasaan isi dan penghayatan sebagai bagian penting dari pertunjukan. Pergantian suara antarpembaca menciptakan dialog puitis yang mengajak pendengar menyimak pesan melalui kata-kata dan ekspresi.

Karya Gus Mus dikenal memiliki corak kritik sosial dan refleksi kehidupan. Melalui musikalisasi puisi, sastra memperoleh ruang untuk hadir sebagai media perenungan. Seni tidak hanya menawarkan keindahan bunyi, tetapi juga mengajak masyarakat melihat kembali persoalan, sikap, dan tanggung jawab manusia.

Penampilan ini sekaligus memperlihatkan bahwa kreativitas santri dapat berkembang melalui berbagai medium, termasuk sastra yang dipadukan dengan musik dan penampilan panggung.

Nasyid dan Bahasa Arab: Seni yang Menguatkan Dakwah

Pesan keislaman menjadi salah satu unsur penting dalam rangkaian pertunjukan. Hal tersebut hadir melalui Nasyid, yang membawakan lagu “Kembalilah” dan “Ghar Hira”.

Nasyid memiliki karakter yang dekat dengan penyampaian pesan spiritual melalui lantunan suara dan lirik. Dalam lingkungan pesantren, penampilan semacam ini dapat menjadi sarana untuk menghubungkan ekspresi seni dengan refleksi keagamaan.

Pesan tentang kehidupan, kesadaran diri, dan kedekatan kepada Allah menjadi ruang pemaknaan yang relevan dalam pendidikan santri. Seni kemudian tidak hanya menjadi media hiburan, tetapi juga dapat mendukung penyampaian nilai-nilai kebaikan.

Semangat tersebut berlanjut melalui penampilan mahasiswa PPL UIN Siber yang membawakan lagu “Ya Lughotil Arabiyyah”. Lagu ini mengangkat pentingnya bahasa Arab, bukan sekadar sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai bahasa yang memiliki kedudukan istimewa dalam tradisi Islam dan Al-Qur’an.

Melalui pesan yang dibawakan, penampilan tersebut mengajak pendengar untuk menghargai bahasa Arab sebagai bagian dari identitas keilmuan dan tradisi keislaman. Pesan ini sejalan dengan kehidupan pesantren yang memberikan perhatian pada pembelajaran bahasa Arab sebagai salah satu jalan untuk mendalami sumber-sumber ajaran Islam.

Pertemuan antara nasyid dan lagu bertema bahasa Arab memperlihatkan dua cara berbeda dalam menyampaikan pesan dakwah: melalui lantunan spiritual dan melalui penguatan kecintaan terhadap bahasa ilmu.

Tiga Bahasa, Satu Semangat Pengabdian

Kemampuan berbahasa juga ditampilkan melalui Pidato Tiga Bahasa yang menggunakan bahasa Indonesia, Inggris, dan Arab. Mengangkat tema “Perjuangan Santri Tiada Henti Mengabdi untuk Negeri”, penampilan ini membawa gagasan tentang pengabdian santri dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.

Penggunaan tiga bahasa memberikan ruang bagi santri untuk melatih keterampilan komunikasi sekaligus menyampaikan gagasan kepada audiens melalui bahasa yang berbeda.

Tema pengabdian juga menempatkan kehidupan pesantren dalam konteks yang lebih luas. Pendidikan santri tidak hanya berkaitan dengan pengembangan pengetahuan agama, tetapi juga dengan pembentukan karakter, kemampuan berkomunikasi, dan kesiapan mengambil peran positif di tengah masyarakat.

Melalui pidato tersebut, semangat menghadapi tantangan zaman dapat dimaknai sebagai upaya mempersiapkan generasi yang memiliki pengetahuan, karakter, dan kemauan untuk berkontribusi bagi bangsa.

Drama sebagai Cermin Kehidupan dan Perjuangan

Seni peran menjadi salah satu medium yang kuat untuk menyampaikan pesan sosial. Hal itu terlihat dalam Drama Musikal “Koruptor Budiman dan Dapur MBG”, yang mengambil latar sekolah.

Melalui perpaduan drama dan musik, tema korupsi serta persoalan yang berkaitan dengan program makan bergizi menjadi bahan cerita yang dapat mengajak penonton melihat pentingnya integritas dan tanggung jawab. Penggunaan latar sekolah juga menempatkan persoalan tersebut dalam lingkungan yang dekat dengan kehidupan pendidikan.

Drama tidak harus menyampaikan pesan melalui penjelasan panjang. Tokoh, dialog, dan konflik cerita dapat menjadi sarana untuk memperlihatkan konsekuensi dari suatu tindakan. Dengan pendekatan ini, seni peran membuka kesempatan bagi penonton untuk merenungkan nilai kejujuran dan tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari.

Tema perjuangan bangsa kemudian hadir melalui Drama Aksi “Pangeran Diponegoro”. Pertunjukan ini mengangkat perjuangan Indonesia, peradaban Islam, serta keteladanan tokoh yang dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda.

Sosok Pangeran Diponegoro dikenal dalam sejarah Indonesia sebagai pemimpin perlawanan terhadap kolonialisme Belanda dalam Perang Jawa pada 1825–1830. Mengangkat tokoh sejarah tersebut ke panggung seni memberikan ruang untuk mengenalkan perjuangan bangsa melalui pendekatan dramatik.

Melalui drama sejarah, nilai keberanian, keteguhan prinsip, dan pengabdian dapat menjadi bahan refleksi bagi santri. Perjuangan masa lalu tidak berhenti sebagai cerita sejarah, tetapi dapat menjadi sumber pembelajaran untuk menghadapi tantangan pada masa kini.

Sementara itu, Dancemie mengangkat tema perundungan melalui perpaduan dance dan pantomim. Pertunjukan ini menggabungkan konflik, unsur komedi, mimik wajah, ekspresi, aksi, dan atraksi untuk menyampaikan cerita tanpa sepenuhnya bergantung pada dialog.

Pantomim menjadikan gerak tubuh dan ekspresi sebagai alat komunikasi utama. Dalam tema perundungan, pendekatan tersebut dapat membantu menyampaikan persoalan sosial melalui bahasa visual yang mudah dikenali.

Penggunaan unsur komedi perlu dibaca sebagai bagian dari cara penyajian cerita, bukan sebagai pembenaran terhadap perundungan. Pesan yang relevan dari tema ini adalah pentingnya membangun lingkungan yang menghargai sesama dan menolak tindakan yang merendahkan orang lain.

Ketiga penampilan tersebut memperlihatkan bagaimana seni peran dapat membawa beragam persoalan ke ruang pendidikan: dari integritas, perjuangan bangsa, hingga hubungan sosial di lingkungan sekitar.

Komedi, Tradisi, dan Kehidupan Santri

Suasana pertunjukan juga diperkaya melalui Drama Komedi “Satu Harapan untuk Indonesia Lebih Baik”. Cerita ini mengangkat tema Koperasi Merah Putih atau koperasi desa dengan gagasan yang disampaikan melalui kalimat, “Kopdes jangan ke mana-mana, ya, tapi harus ada di mana-mana.”

Penggunaan komedi membuka ruang bagi penyampaian gagasan sosial melalui cara yang lebih ringan. Humor dapat membantu penonton mengikuti cerita, sementara tema yang diangkat memberi kesempatan untuk membicarakan harapan terhadap kehidupan ekonomi dan masyarakat.

Di sisi lain, unsur tradisi hadir melalui Barongan, yang memadukan tari kuda lumping, barongsai, tari naga atau liang liong, atraksi semburan obor, lagu “Perahu Layar”, tari jaranan, dan unsur warok Ponorogo.

Perpaduan tersebut menghadirkan beragam bentuk seni pertunjukan yang memiliki karakter visual dan gerak berbeda. Kuda lumping, barongsai, naga, jaranan, dan warok masing-masing memiliki latar tradisi tersendiri. Ketika disatukan dalam satu pertunjukan, keberagaman itu menjadi ruang eksplorasi kreatif yang membutuhkan pengaturan gerak dan koordinasi antarpemain.

Atraksi semburan obor menjadi unsur pertunjukan yang memerlukan perhatian khusus terhadap keselamatan. Dalam seni pertunjukan, unsur spektakuler perlu berjalan bersama dengan pengendalian risiko dan pengawasan yang memadai.

Kehidupan pesantren kemudian hadir dalam nuansa yang lebih dekat melalui Campursari. Penampilan ini melibatkan empat penyanyi dan penari pengiring yang membawakan lagu berbahasa Jawa Cirebon, yakni “Pancene Kito Santri” dan “Urip Ning Pondok Ake Aturan”.

Melalui penggunaan bahasa daerah dan tema kehidupan pondok, campursari menghadirkan ekspresi seni yang dekat dengan lingkungan budaya masyarakat Cirebon. Perpaduan musik, nyanyian, dan gerak menjadi salah satu cara untuk menampilkan kehidupan santri melalui pendekatan yang akrab dengan tradisi lokal.

Bahasa daerah dalam seni juga memiliki nilai penting sebagai sarana menjaga kedekatan dengan budaya setempat. Di tengah berkembangnya musik modern dan budaya populer global, tradisi lokal tetap memiliki ruang untuk diolah secara kreatif oleh generasi muda.

Dari Panggung Menuju Pembelajaran yang Lebih Luas

Di balik beragam penampilan tersebut, terdapat rangkaian persiapan yang dimulai sejak Juni 2026. Setelah pembentukan kegiatan dan penyusunan proposal, panitia melanjutkan proses dengan pengajuan proposal pada Juli. Penggalangan dana, persiapan latihan, dekorasi, seleksi, dan latihan berlangsung pada Agustus hingga September, sebelum gladi bersih dan pelaksanaan acara.

Penasihat kegiatan, KH. Warso Winata, Lc., M.A., bersama pembina Ustadz Syamsurrizalul Fikri, S.M., tercatat dalam struktur pendampingan Darurrohmah Art Show 2026. Kegiatan ini diselenggarakan oleh santri kelas akhir 6, 9, dan 12 sebagai bagian dari pengalaman belajar melalui organisasi dan seni.

Tujuan kegiatan mencakup penyaluran bakat dan kreativitas, peningkatan kepercayaan diri, penguatan ukhuwah Islamiyah, penanaman nilai-nilai Islami melalui seni, serta pengalaman bekerja sama. Tujuan tersebut memberikan landasan pendidikan bagi berbagai bentuk pertunjukan yang dihadirkan.

Darurrohmah Art Show 2026 mempertemukan beragam ekspresi dalam satu panggung: tarian tradisional, musik modern, puisi, nasyid, pidato, drama sejarah, kritik sosial, hingga seni pertunjukan yang terinspirasi dari budaya populer. Masing-masing memiliki karakter dan pesan yang berbeda, tetapi seluruhnya membuka ruang bagi santri untuk belajar mengekspresikan gagasan melalui karya.

Pada akhirnya, panggung seni bukan hanya tempat untuk menampilkan hasil latihan. Ia juga menjadi ruang belajar tentang tanggung jawab, keberanian, kreativitas, dan penghargaan terhadap keberagaman.

Melalui tema “Perjuangan Menghadapi Tantangan Zaman”, Darurrohmah Art Show 2026 menghadirkan pesan bahwa seni, budaya, dan dakwah dapat berjalan berdampingan. Di lingkungan Pondok Pesantren Darurrohmah, kreativitas menjadi salah satu jalan untuk mengembangkan potensi santri sekaligus menjaga agar nilai-nilai keislaman, kebudayaan, dan kepedulian sosial tetap hadir dalam proses pendidikan generasi muda.

Khodimul Dhuyuf

Hubungi Kami untuk respons lebih cepat jika Anda membutuhkan bantuan, atau informasi seputar Pondok Pesantren Darurrohmah.