Kajian Kitab Ta’lim al-Muta’allim

  • Senin, 17 Agustus 2026
  • 3 views
Kajian Kitab Ta’lim al-Muta’allim

Narasumber: KH. Warso Winata, Lc., M.A.
Tanggal: 20 Juli 2026

Pondok Pesantren Darurrohmah merupakan lembaga pendidikan Islam yang mengintegrasikan tiga sistem pembelajaran, yaitu modern, salaf, dan tahfiz Al-Qur’an. Ketiga sistem tersebut dipadukan untuk membentuk santri yang memiliki kemampuan akademik, pemahaman keislaman yang mendalam, serta akhlak yang mulia.

Menurut KH. Warso Winata, Lc., M.A., sistem pendidikan modern memiliki porsi yang cukup dominan di Darurrohmah. Hal ini tidak terlepas dari latar belakang pengasuh yang merupakan alumni pondok pesantren modern. Meski demikian, sistem salaf dan tahfiz tetap menjadi bagian penting dalam membangun karakter serta memperkuat pemahaman agama para santri.

Perbedaan Sistem Modern dan Salaf

Sistem Modern

Pendidikan modern di Darurrohmah berfokus pada pembentukan karakter dan pengembangan potensi santri melalui berbagai kegiatan. Beberapa ciri utamanya antara lain:

  • Mengembangkan mental, kepemimpinan (leadership), kemampuan berbahasa, dan kreativitas santri.
  • Menanamkan jiwa kepemimpinan melalui kegiatan seperti muhadharah, organisasi santri, kepengurusan, dan kepanitiaan.
  • Menerapkan penggunaan bahasa resmi secara disiplin, terutama bagi santri tingkat atas.
  • Memberikan ruang bagi santri untuk menampilkan kreativitas melalui berbagai kegiatan, seperti Darurrohmah Art Show, pertunjukan seni, dan berbagai perlombaan.

Sistem Salaf

Sementara itu, sistem salaf lebih menitikberatkan pada pendalaman ilmu agama melalui kajian kitab-kitab klasik (kitab kuning) serta pembinaan adab.

Kitab-kitab yang dikaji antara lain:

  • Ta’lim al-Muta’allim
  • Akhlaq lil Banin
  • Safinatun Najah
  • Al-Barzanji

Kitab-kitab tersebut dipelajari pada waktu pagi dan sore. KH. Warso menjelaskan bahwa kitab-kitab tersebut tidak diajarkan di sebagian pesantren modern, namun dipelajari di Darurrohmah agar para santri memiliki dasar yang kuat dalam fikih, akhlak, dan tradisi keilmuan Islam, khususnya fikih bermadzhab Imam Syafi’i melalui kitab Safinatun Najah.

Beliau juga menjelaskan bahwa dalam pembelajaran digunakan kitab yang berharakat. Tujuannya agar santri tidak hanya berfokus pada aspek kebahasaan, tetapi lebih mampu memahami kandungan dan pesan utama yang terdapat dalam kitab.

Sistem Tahfiz Al-Qur’an

Program tahfiz bertujuan mencetak para penghafal Al-Qur’an yang tidak hanya memiliki hafalan yang kuat, tetapi juga memahami ilmu-ilmu keislaman. Beliau menyampaikan bahwa di beberapa tempat terdapat penghafal Al-Qur’an yang belum memiliki pemahaman memadai tentang fikih maupun akidah. Oleh karena itu, Darurrohmah menggabungkan program tahfiz dengan pembelajaran kitab agar santri memiliki pemahaman agama yang utuh.

Pentingnya Adab dalam Menuntut Ilmu

Dalam kajian Kitab Ta’lim al-Muta’allim, KH. Warso menekankan bahwa kitab ini membahas tentang adab dan akhlak dalam menuntut ilmu.

Beliau menjelaskan bahwa:

  • Adab adalah sikap santun yang lahir dari pengetahuan dan pemahaman seseorang.
  • Akhlak adalah sikap mulia yang tumbuh sebagai buah dari ibadah dan kedekatan kepada Allah Swt.

Adab merupakan bagian penting dari akhlak. Secara lahiriah, adab dapat diwujudkan melalui sikap hormat, seperti menundukkan kepala, berjabat tangan, dan menghormati guru. Namun, penghormatan tersebut tidak boleh hanya bersifat formalitas, melainkan harus disertai rasa ta’dzim yang tulus dari dalam hati.

Beliau menegaskan bahwa penghormatan kepada guru pada hakikatnya merupakan bentuk penghormatan kepada ilmu yang Allah titipkan melalui para ulama. Oleh karena itu, penghormatan harus dilakukan secara lahir maupun batin tanpa adanya perbedaan antara sikap fisik dan isi hati.

Adab Lebih Utama daripada Ilmu

Dalam kajian tersebut disampaikan sebuah ungkapan yang sangat masyhur:

الأدب فوق العلم
“Adab berada di atas ilmu.”

Ungkapan ini mengandung makna bahwa ilmu yang tidak disertai adab dapat menjadi sesuatu yang berbahaya. Banyak orang memiliki pengetahuan yang tinggi, tetapi menyalahgunakannya untuk melakukan kemungkaran, seperti korupsi dan berbagai bentuk penyimpangan lainnya. Oleh sebab itu, adab harus menjadi fondasi sebelum seseorang mengembangkan ilmunya.

Beliau juga menyampaikan sebuah nasihat:

مَنْ يَزْدَدْ عِلْمًا وَلَمْ يَزْدَدْ هُدًى لَمْ يَزْدَدْ مِنَ اللهِ إِلَّا بُعْدًا
“Barang siapa yang bertambah ilmunya, tetapi tidak bertambah petunjuk dan ketakwaannya, maka ia tidak bertambah kecuali semakin jauh dari Allah.”

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa tujuan utama menuntut ilmu bukan sekadar menambah pengetahuan, melainkan menghadirkan perubahan menuju pribadi yang lebih baik. Ilmu yang tidak melahirkan hidayah, amal saleh, dan akhlak mulia justru dapat menjadi sebab seseorang semakin jauh dari ridha Allah Swt.

Sebagai penutup, KH. Warso mengingatkan bahwa semakin tinggi ilmu seseorang, seharusnya semakin tinggi pula adab dan akhlaknya. Santri hendaknya datang ke pesantren dengan niat untuk memperbaiki diri, bukan sekadar menambah wawasan. Ilmu yang disertai adab akan membawa keberkahan, sedangkan ilmu yang tidak diamalkan dapat menjadi sebab hilangnya keberkahan dalam kehidupan.

Dinia, Zhafira dan Shofie

Khodimul Dhuyuf

Hubungi Kami untuk respons lebih cepat jika Anda membutuhkan bantuan, atau informasi seputar Pondok Pesantren Darurrohmah.